A.Profile Demografis![]()
Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi terbesar ke-5 di dunia setelah Cina, India, Amerika dan Uni Sovyet sebelum bubarnya. Secara kuantitatif penduduk Indonesia pada tahun 2000 akan berjumlah lebih dari 210 juta jiwa yang tersebar di seluruh Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Dari jumlah tersebut, jumlah generasi muda yang berusia antara 10 – 24 tahun diproyeksikan menjadi 64.830.000 penduduk
Dari jumlah tersebut di atas, diperkirakan sekitar 62 % tinggal didaerah pedesaan dan 38 % di daerah perkotaan.
Tingkat pendidikan di Indonesia pada umumnya mengalami kenaikan,walaupun masih menyisakan problem yang mendasar ketika sejumlah besar pemuda, khususnya di pedesaan, tidak dapat mengenyam bangku sekolah menengah atau tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dari statistik tahun 1997, tingkat partisipasi pendidikan didapat data sebagai berikut :
1.Tingkat SLTP, usia 13 – 15 tahun, tingkat rasio partisipasi pendidikan adalah 87,5 % untuk perkotaan dan 69,2 % untuk pedesaan.
2.Tingkat SLTA, 66 % untuk perkotaan dan 34,4 % untuk pedesaan.
3.Tingkat Perguruan Tinggi (higher education), 21,6 % untuk perkotaan dan 4,5 % untuk pedesaan.
4.Untuk total populasi, hanya 14,9 % penduduk berhasil tamat sekolah menengah.
5.Untuk daerah pedesaan, usia 10 tahun ke atas, 11,09 % pria dan 8,2 % wanita telah menamatkan pendidikan setingkat SLTP, sedangkan untuk tamatan SLTA sebesar 8,2 % pria dan 5,1 % wanita.
6.Secara umum, wanita memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dimana 16,9 % wanita dari total populasi tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali sedangkan pria hanya 7,6 %.
Pekerjaan: Lalu kemana para remaja yang tidak dapat sekolah atau melanjutkan sekolah yang lebih tinggi? Sebagian besar mereka, termasuk anak-anak dibawah usia, adalah bekerja, baik di sektor formal maupun informal. Dari profil demografis ini didapat kesimpulan bahwa:
1.Secara umum, tingkat partisipasi pendidikan masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara maju atau negara-negara berkembang lainnya. Demikian juga dengan kualitas pendidikannya
(lihat pembahasan Problematika Dakwah Sekolah). Dengan demikian, dakwah kita diharapkan juga dapat berperan untuk sedapat mungkin meningkatkan tingkat partisipasi dan kualitas pendidikan khususnya generasi muda Islam di Indonesia. Misalnya: pemberian beasiswa, pelatihan berbagai ketrampilan, dsb.
2.Para pemuda yang terdidik dalam jumlah yang relatif sedikit itu adalah segmen yang sangat strategis untuk digarap oleh dakwah, oleh karena mereka itulah calon pemimpin di masyarakat, baik tingkat lokal daerahnya hingga tingkat nasional.
3.Segmen pelajar sekolah SLTP maupun SLTA di perkotaan masih menjadi prioritas garapan dakwah sekolah karena memiliki tingkat partisipasi pendidikan yang lebih tinggi walaupun dengan persentase populasi yang lebih rendah dibandingkan dengan pedesaan.
Dari jumlah tersebut, jumlah generasi muda yang berusia antara 10 – 24 tahun diproyeksikan menjadi 64.830.000 penduduk
, atau sekitar 31 % dari total proyeksi populasi.Dari jumlah tersebut di atas, diperkirakan sekitar 62 % tinggal didaerah pedesaan dan 38 % di daerah perkotaan.
Tingkat pendidikan di Indonesia pada umumnya mengalami kenaikan,walaupun masih menyisakan problem yang mendasar ketika sejumlah besar pemuda, khususnya di pedesaan, tidak dapat mengenyam bangku sekolah menengah atau tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dari statistik tahun 1997, tingkat partisipasi pendidikan didapat data sebagai berikut :

1.Tingkat SLTP, usia 13 – 15 tahun, tingkat rasio partisipasi pendidikan adalah 87,5 % untuk perkotaan dan 69,2 % untuk pedesaan.
2.Tingkat SLTA, 66 % untuk perkotaan dan 34,4 % untuk pedesaan.
3.Tingkat Perguruan Tinggi (higher education), 21,6 % untuk perkotaan dan 4,5 % untuk pedesaan.
4.Untuk total populasi, hanya 14,9 % penduduk berhasil tamat sekolah menengah.
5.Untuk daerah pedesaan, usia 10 tahun ke atas, 11,09 % pria dan 8,2 % wanita telah menamatkan pendidikan setingkat SLTP, sedangkan untuk tamatan SLTA sebesar 8,2 % pria dan 5,1 % wanita.
6.Secara umum, wanita memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dimana 16,9 % wanita dari total populasi tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali sedangkan pria hanya 7,6 %.
Pekerjaan: Lalu kemana para remaja yang tidak dapat sekolah atau melanjutkan sekolah yang lebih tinggi? Sebagian besar mereka, termasuk anak-anak dibawah usia, adalah bekerja, baik di sektor formal maupun informal. Dari profil demografis ini didapat kesimpulan bahwa:
1.Secara umum, tingkat partisipasi pendidikan masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara maju atau negara-negara berkembang lainnya. Demikian juga dengan kualitas pendidikannya

(lihat pembahasan Problematika Dakwah Sekolah). Dengan demikian, dakwah kita diharapkan juga dapat berperan untuk sedapat mungkin meningkatkan tingkat partisipasi dan kualitas pendidikan khususnya generasi muda Islam di Indonesia. Misalnya: pemberian beasiswa, pelatihan berbagai ketrampilan, dsb.
2.Para pemuda yang terdidik dalam jumlah yang relatif sedikit itu adalah segmen yang sangat strategis untuk digarap oleh dakwah, oleh karena mereka itulah calon pemimpin di masyarakat, baik tingkat lokal daerahnya hingga tingkat nasional.
3.Segmen pelajar sekolah SLTP maupun SLTA di perkotaan masih menjadi prioritas garapan dakwah sekolah karena memiliki tingkat partisipasi pendidikan yang lebih tinggi walaupun dengan persentase populasi yang lebih rendah dibandingkan dengan pedesaan.





