C.Potensi Remaja Sebagai Besaran Vektor![]()
Proses transisi pada masa remaja akan menimbulkan gejolak yang dikenal sebagai negative phase dengan ciri-ciri antara lain: ketidakstabilan keadaan perasaan dan emosi, penentangan terhadap kewibawaan orang dewasa, kurang percaya diri dan suka berkhayal. Pada saat yang sama muncul pula positive phase dimana remaja mulai memikirkan tentang masa depannya dan telah memiliki kesiapan untuk ditempa lebih lanjut untuk mencapai cita-citanya. Remaja memiliki kemurnian niat, semangat yang tinggi, fisik yang kuat, idealisme yang besar dan kesiapan fikri yang optimal. Potensi positif dan negatif ini dapat saling meniadakan, tergantung unsur-unsur mana yang lebih kuat mempengaruhinya.
Ibarat besaran vektor
, maka potensi remaja memiliki besaran dan arah. Apakah segenap besaran potensi kepemudaannya itu akan mengarah positif dan produktif ataukah sebaliknya mengarah menjadi negatif dan destruktif. Itulah mengapa kita sering melihat barisan pemuda-pelajar yang sangat getol mengkaji Islam, menghafalkannya, mengadakan studi Islam dan berdakwah di sekolah-sekolah, mulai mengenakan jilbab, giat belajar, aktif kegiatan positif
, sementara pada saat yang sama kita menyaksikan wabah tawuran, narkoba, free-seks dan musik destruktif melanda remaja-remaja kita dari kota-kota besar hingga pelosok desa di tanah air
. Teriakan histeris para remaja dari depan panggung pertunjukan musik untuk penyanyi idolanya menjadi kenyataan antagonis dengan tangisan para remaja masjid yang khusyu’ dalam shalat malamnya. Subhanallah, benarlah Rasulullah SAW dalam sabdanya: ”Ada 7 golongan yang akan Allah SWT naungi pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya: ...(diantaranya) pemuda yang senantiasa rajin/taat dalam beribadah kepada Rabbnya.” (HR. Syaikhani, Ahmad dan Nasai).
Ibarat besaran vektor

, maka potensi remaja memiliki besaran dan arah. Apakah segenap besaran potensi kepemudaannya itu akan mengarah positif dan produktif ataukah sebaliknya mengarah menjadi negatif dan destruktif. Itulah mengapa kita sering melihat barisan pemuda-pelajar yang sangat getol mengkaji Islam, menghafalkannya, mengadakan studi Islam dan berdakwah di sekolah-sekolah, mulai mengenakan jilbab, giat belajar, aktif kegiatan positif

, sementara pada saat yang sama kita menyaksikan wabah tawuran, narkoba, free-seks dan musik destruktif melanda remaja-remaja kita dari kota-kota besar hingga pelosok desa di tanah air

. Teriakan histeris para remaja dari depan panggung pertunjukan musik untuk penyanyi idolanya menjadi kenyataan antagonis dengan tangisan para remaja masjid yang khusyu’ dalam shalat malamnya. Subhanallah, benarlah Rasulullah SAW dalam sabdanya: ”





